British Pound: Sterling seen grinding lower against Euro – Rabobank

Dipublikasikan pada: 30 June 2026

British Pound: Sterling seen grinding lower against Euro – Rabobank

Poundsterling Inggris diproyeksikan akan terus melemah secara bertahap terhadap Euro, demikian analisis terbaru dari Rabobank. Institusi keuangan tersebut mengindikasikan bahwa prospek Sterling akan 'tergerus' (grinding lower) di tengah perbedaan fundamental ekonomi dan kebijakan moneter antara Inggris dan Zona Euro. Pandangan ini menyoroti tekanan berkelanjutan yang mungkin dihadapi GBP/EUR dalam beberapa waktu ke depan. Analisis Rabobank memperkuat kekhawatiran pasar mengenai daya tahan ekonomi Inggris.

Prospek Poundsterling Terus Tergerus Melawan Euro Menurut Rabobank

Rabobank menggarisbawahi beberapa faktor utama di balik proyeksi pelemahan Poundsterling ini. Mereka melihat divergensi yang semakin jelas dalam prospek pertumbuhan ekonomi dan jalur kebijakan moneter Bank of England (BoE) dibandingkan dengan European Central Bank (ECB). Para analis Rabobank berpendapat bahwa ekonomi Inggris menghadapi tantangan struktural yang lebih dalam, membatasi potensi penguatan Sterling. Selain itu, inflasi yang persisten di Inggris tidak serta merta diterjemahkan menjadi dukungan kuat bagi Poundsterling, sebab hal tersebut juga mencerminkan masalah pasokan dan daya beli. Oleh karena itu, pelemahan bertahap GBP/EUR menjadi skenario dasar mereka.

Divergensi Ekonomi UK dan Zona Euro

Ekonomi Inggris terus menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Pertumbuhan PDB tetap lesu, dan sektor-sektor kunci menghadapi tekanan inflasi yang tinggi serta krisis biaya hidup. Data terbaru menunjukkan konsumsi rumah tangga yang melemah, serta investasi bisnis yang stagnan. Di sisi lain, meskipun Zona Euro juga menghadapi tantangan, indikator ekonomi tertentu menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Pasar tenaga kerja di Zona Euro relatif stabil, dan kepercayaan bisnis, meskipun berfluktuasi, tidak menunjukkan kemerosotan drastis seperti di Inggris. Perbedaan kinerja ekonomi ini secara alami memengaruhi persepsi investor terhadap kedua mata uang.

Perbedaan Kebijakan Moneter BoE dan ECB

Bank of England telah menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengatasi inflasi yang tinggi. Namun, kekhawatiran terhadap resesi membatasi ruang gerak BoE. Pasar mulai memperkirakan BoE akan menghentikan kenaikan suku bunga lebih cepat, atau bahkan mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kontrasnya, European Central Bank, meskipun juga menghadapi tekanan, mungkin memiliki jalur kebijakan yang sedikit berbeda. ECB telah menunjukkan komitmen kuat terhadap penjinakan inflasi. Pasar mungkin melihat ECB mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Perbedaan ekspektasi ini menciptakan disinsentif bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi, sehingga cenderung mengalirkan modal dari Poundsterling ke Euro.

Faktor Risiko Tambahan untuk Sterling

Poundsterling juga rentan terhadap berbagai risiko politik dan ekonomi lainnya. Ketidakpastian terkait kebijakan pemerintah Inggris, potensi konflik perdagangan pasca-Brexit, serta prospek pemilu yang akan datang, semua dapat menambah volatilitas dan menekan Sterling. Investor cenderung menghindari aset yang terkait dengan ketidakpastian politik. Lingkungan global yang tidak menentu juga memperburuk prospek Sterling. Ketika sentimen risiko global meningkat, investor cenderung beralih ke mata uang safe-haven. Sayangnya, Poundsterling tidak selalu dianggap sebagai aset safe-haven dalam kondisi pasar yang bergejolak.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Stabilitas Harga Minyak WTI: $70.00 & Harapan Negosiasi Iran Artikel Lama → Harga Perak Hari Ini Menguat: Analisis FXStreet & Prospek Terbaru

Postingan Lainya