China: Growth trimmed, inflation lifted – ABN AMRO

Dipublikasikan pada: 27 March 2026

China: Growth trimmed, inflation lifted – ABN AMRO

ABN AMRO, salah satu institusi keuangan terkemuka, telah merilis pandangan terbaru mereka mengenai prospek ekonomi Tiongkok. Analisis mereka menunjukkan bahwa negara ekonomi terbesar kedua di dunia ini menghadapi tantangan ganda, di mana proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas sementara tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat. Situasi ini direfleksikan dalam judul utama mereka: "China: Growth trimmed, inflation lifted – ABN AMRO", menggarisbawahi pergeseran signifikan dalam narasi ekonomi Tiongkok yang perlu diperhatikan oleh investor dan pengambil kebijakan global.

Proyeksi Ekonomi Tiongkok: Pertumbuhan Melambat, Inflasi Terkerek

Revisi proyeksi ABN AMRO untuk Tiongkok tidak terlepas dari serangkaian data ekonomi yang menunjukkan tren perlambatan. Sektor properti Tiongkok masih berada dalam krisis mendalam, dengan sejumlah pengembang besar menghadapi kesulitan likuiditas yang parah. Penurunan investasi properti dan penjualan perumahan secara signifikan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, konsumsi domestik juga belum pulih sepenuhnya pasca-pandemi, diakibatkan oleh sentimen konsumen yang masih lemah dan tingginya tingkat pengangguran kaum muda.

Tekanan dari sisi eksternal turut berkontribusi terhadap perlambatan ini. Permintaan global yang lesu, terutama dari pasar-pasar utama seperti Eropa dan Amerika Serikat, memukul sektor ekspor Tiongkok. Ketegangan geopolitik juga menimbulkan ketidakpastian, memengaruhi investasi asing langsung serta rantai pasok global. Oleh karena itu, ABN AMRO memproyeksikan laju pertumbuhan PDB Tiongkok akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, menyoroti tantangan struktural yang memerlukan solusi komprehensif.

Faktor-faktor Pendorong Perlambatan Ekonomi

Penurunan kinerja sektor properti menjadi pendorong utama koreksi proyeksi pertumbuhan. Krisis utang pengembang seperti Evergrande dan Country Garden telah menciptakan efek domino, memengaruhi sektor perbankan dan kepercayaan investor. Pemerintah Tiongkok berupaya keras menstabilkan pasar, namun dampaknya masih terbatas. Selanjutnya, kebijakan pembatasan COVID-19 yang ketat di masa lalu masih meninggalkan bekas pada perilaku konsumen. Masyarakat cenderung menabung lebih banyak dan mengurangi pengeluaran diskresioner di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, tantangan demografi juga mulai terasa. Populasi usia kerja Tiongkok menyusut, sementara populasi menua bertambah. Hal ini berpotensi menekan produktivitas jangka panjang serta meningkatkan beban fiskal pemerintah. Kebijakan pemerintah yang fokus pada “kemakmuran bersama” juga telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan perusahaan swasta, berpotensi mengurangi inovasi dan investasi. Semua faktor ini secara kolektif memperlambat laju mesin ekonomi Tiongkok.

Ancaman Inflasi di Tengah Upaya Stimulus

Di sisi lain, ABN AMRO memperingatkan tentang potensi peningkatan tekanan inflasi di Tiongkok. Meskipun indeks harga produsen (PPI) Tiongkok sempat berada di wilayah deflasi, indeks harga konsumen (CPI) diperkirakan akan terangkat. Kenaikan harga pangan global dan komoditas energi, meskipun fluktuatif, berpotensi merembes ke pasar domestik. Ini akan membebani daya beli masyarakat, terutama di perkotaan.

Upaya pemerintah Tiongkok untuk menstimulus ekonomi melalui kebijakan moneter yang lebih longgar juga dapat berkontribusi pada kenaikan inflasi. Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) telah memangkas suku bunga acuan dan memompa likuiditas ke dalam sistem. Dana ini, jika tidak disalurkan secara efisien, dapat memicu kenaikan harga. Pemulihan konsumsi yang bertahap juga akan mendorong permintaan agregat, yang pada gilirannya dapat menaikkan harga barang dan jasa tertentu. Ini menciptakan dilema kebijakan yang rumit bagi Beijing.

Implikasi Terhadap Pasar Keuangan Global

Prospek "pertumbuhan dipangkas, inflasi terkerek" dari Tiongkok memiliki implikasi luas bagi pasar keuangan global. Perlambatan Tiongkok dapat menekan harga komoditas global, mengingat Tiongkok adalah konsumen terbesar banyak bahan baku. Pasar ekuitas global juga mungkin merasakan dampaknya, terutama sektor-sektor yang sangat bergantung pada permintaan Tiongkok. Selain itu, kebijakan moneter Tiongkok yang dovish kemungkinan akan menekan nilai tukar Yuan, memengaruhi arus modal dan daya saing ekspor.

Investor perlu mempertimbangkan kembali alokasi aset mereka. Sektor-sektor yang lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok atau yang memiliki eksposur rendah mungkin menjadi pilihan lebih menarik. Perusahaan-perusahaan multinasional dengan operasi signifikan di Tiongkok juga harus mengevaluasi ulang strategi mereka. Kehati-hatian adalah kunci dalam menghadapi lingkungan ekonomi Tiongkok yang semakin kompleks ini.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Australian Dollar falls to two-month lows on US–Iran peace uncertainty Artikel Lama → AUD/USD Anjlok: Dolar AS Menguat Akibat Kecemasan Timur Tengah

Postingan Lainya