Depresiasi Yen Jepang: Mengapa USD/JPY Bertahan di 155?
Dipublikasikan pada: 16 December 2025
Pasangan mata uang USD/JPY terus bertahan mendekati level krusial 155, meskipun Jepang baru saja merilis data survei Tankan yang menunjukkan kekuatan signifikan. Analisis dari Brown Brothers Harriman (BBH) menyoroti kompleksitas pasar saat ini, di mana sentimen bisnis yang membaik di Jepang belum cukup untuk secara substansif mendorong apresiasi Yen terhadap Dolar AS.
Ketahanan USD/JPY di Tengah Survei Tankan yang Kuat
Survei Tankan, laporan triwulanan dari Bank of Japan (BoJ), baru-baru ini melampaui ekspektasi. Indeks kondisi bisnis manufaktur besar naik menjadi 11 dari 10, melebihi perkiraan 9. Ini adalah peningkatan positif yang menandakan optimisme di sektor korporasi Jepang. Secara tradisional, data ekonomi yang kuat seperti ini dapat memberikan dukungan bagi mata uang domestik. Namun demikian, USD/JPY tetap stabil di sekitar ambang batas 155. Level ini memegang signifikansi psikologis dan historis, sering dikaitkan dengan potensi intervensi mata uang oleh otoritas Jepang.
Faktor-faktor Pendorong di Balik Level 155
BBH menggarisbawahi beberapa faktor yang berkontribusi pada ketahanan USD/JPY. Salah satu pendorong utama adalah perbedaan suku bunga yang persisten antara Amerika Serikat dan Jepang. Federal Reserve AS mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat dengan suku bunga yang lebih tinggi. Sebaliknya, Bank of Japan, meskipun telah melakukan penyesuaian baru-baru ini, masih mempertahankan suku bunga di wilayah yang sangat rendah. Perbedaan imbal hasil obligasi pemerintah kedua negara ini menciptakan daya tarik bagi investor untuk memegang aset berdenominasi Dolar AS, sehingga menekan Yen.
Selain itu, kekuatan Dolar AS secara keseluruhan juga berperan. Ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda ketahanan, mendukung ekspektasi bahwa Fed mungkin menunda pemangkasan suku bunga. Permintaan global akan Dolar sebagai aset safe haven juga dapat meningkat di tengah ketidakpastian geopolitik. Faktor-faktor ini secara kolektif membendung upaya Yen untuk menguat, bahkan di hadapan data ekonomi domestik yang positif.
Analisis BBH: Mengapa Yen Gagal Menguat Signifikan?
Menurut BBH, pasar masih mencerna implikasi dari perubahan kebijakan BoJ baru-baru ini. Meskipun BoJ telah mengakhiri kebijakan suku bunga negatif dan kontrol kurva imbal hasil (YCC), langkah-langkah ini dianggap belum cukup agresif untuk sepenuhnya menutup kesenjangan suku bunga dengan AS. Para analis BBH memperkirakan bahwa diperlukan lebih banyak bukti inflasi yang berkelanjutan dan pertumbuhan upah yang kuat di Jepang untuk memicu perubahan signifikan dalam prospek kebijakan BoJ. Tanpa perubahan tersebut, Yen kemungkinan akan tetap rentan.
Sentimen pasar juga mempertimbangkan potensi intervensi. Otoritas Jepang telah berulang kali menyuarakan keprihatinan atas depresiasi Yen yang cepat. Namun, ancaman intervensi saja belum cukup untuk secara drastis mengubah arah pasar USD/JPY secara berkelanjutan. BBH mencatat bahwa pasar cenderung menguji batas-batas tersebut sampai intervensi benar-benar terjadi, atau sampai fundamental ekonomi memberikan dorongan yang lebih kuat bagi Yen.
Kesimpulan
Meskipun data Survei Tankan Jepang menunjukkan optimisme, Depresiasi Yen Jepang terus berlanjut, membuat USD/JPY stabil di ambang 155. Analisis BBH menyoroti perbedaan suku bunga AS-Jepang dan kekuatan Dolar AS sebagai pendorong utama ketahanan ini. Pasar menunggu langkah lebih agresif dari BoJ atau intervensi nyata untuk mengubah sentimen.
Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com