Gold climbs above $5,200 on geopolitical tensions, trade uncertainty

Dipublikasikan pada: 24 February 2026

Gold climbs above $5,200 on geopolitical tensions, trade uncertainty
Harga Emas Melonjak di Atas $5.200 Akibat Ketegangan Geopolitik dan Ketidakpastian Perdagangan Global

Harga Emas Melonjak di Atas $5.200 Akibat Ketegangan Geopolitik dan Ketidakpastian Perdagangan Global

Harga emas global telah menunjukkan reli signifikan, dengan logam mulia ini berhasil melonjak di atas level krusial $5.200 per ons. Kenaikan tajam ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan yang terus membayangi prospek ekonomi global. Akibatnya, investor mencari aset 'safe haven' untuk melindungi modal mereka dari volatilitas pasar.

Ketegangan Geopolitik Memanaskan Permintaan Emas

Meningkatnya ketegangan di berbagai belahan dunia menjadi katalis utama di balik kenaikan harga emas. Konflik regional, ketidakstabilan politik di negara-negara kunci, serta persaingan kekuatan besar menciptakan lingkungan penuh risiko. Investor secara inheren menganggap emas sebagai penyimpan nilai yang andal di masa-masa sulit. Selain itu, ancaman eskalasi konflik berpotensi mengganggu jalur pasokan global dan memicu inflasi, kondisi yang secara historis menguntungkan harga emas.

Faktanya, setiap kali ada berita mengenai konflik baru atau pergeseran kebijakan yang berisiko, permintaan terhadap emas seringkali melonjak. Logam kuning ini menawarkan perlindungan terhadap depresiasi mata uang fiat dan penurunan nilai aset berisiko lainnya seperti saham. Oleh karena itu, ketidakpastian politik mendorong arus modal signifikan ke pasar emas.

Ketidakpastian Perdagangan Global Mendorong Reli Harga Emas

Di samping faktor geopolitik, ketidakpastian perdagangan global juga menjadi pendorong kuat. Ketegangan perdagangan antara kekuatan ekonomi utama, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, terus menghadirkan tantangan. Kebijakan proteksionisme dan gangguan rantai pasokan global menciptakan keraguan terhadap pertumbuhan ekonomi masa depan. Hal ini kemudian memicu kekhawatiran resesi dan mengurangi kepercayaan investor terhadap prospek pasar saham.

Ketika prospek perdagangan suram, bank sentral di seluruh dunia mungkin mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter. Tujuannya adalah untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, kebijakan suku bunga rendah dan pencetakan uang dapat melemahkan nilai mata uang, membuat emas semakin menarik sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil namun mempertahankan daya belinya. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada dorongan harga emas melampaui $5.200.

Dampak Inflasi dan Kebijakan Moneter Terhadap Logam Kuning

Perluasan inflasi atau ekspektasi inflasi yang tinggi semakin meningkatkan daya tarik emas. Harga konsumen yang melonjak mengikis daya beli uang tunai dan obligasi. Investor mencari perlindungan nilai dari efek ini. Emas, secara tradisional, dianggap sebagai pagar inflasi yang efektif karena nilainya tidak terkait langsung dengan kebijakan moneter suatu negara.

Selain itu, arah kebijakan suku bunga global juga memainkan peran penting. Meskipun suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat emas kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil, ketidakpastian ekonomi yang diciptakan oleh ketegangan geopolitik dan perdagangan seringkali memaksa bank sentral untuk menunda pengetatan moneter. Ini menjaga lingkungan yang mendukung emas. Kondisi seperti ini menciptakan momentum berkelanjutan bagi harga emas untuk mempertahankan level puncaknya.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Fancy clothes, mealtime alarms and Disney princess gigs: How GLP-1s are changing people's lives in unexpected ways Artikel Lama → GBP/USD treads water near 1.3500 as BoE-Fed divergence debate stalls

Postingan Lainya