Harga Minyak WTI: Tertekan Perang Dagang, Ditopang Iran
Dipublikasikan pada: 23 February 2026
WTI Terus Melemah di Atas $65.00 di Tengah Kekhawatiran Perang Dagang, Ketegangan AS-Iran Beri Dukungan
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terus bergerak di zona merah di atas level pertengahan $65.00 per barel. Pasar global dihantui oleh kekhawatiran perang dagang yang intensif antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Meskipun demikian, ketegangan geopolitik yang meningkat antara AS dan Iran menawarkan dukungan fundamental, mencegah penurunan harga yang lebih drastis. Tarik-menarik antara sentimen bearish permintaan dan risiko pasokan ini menciptakan lingkungan perdagangan yang volatil bagi komoditas emas hitam.
Kekhawatiran Perang Dagang Global Menekan Prospek Permintaan Minyak
Ancaman perang dagang menjadi faktor penekan utama bagi harga minyak. Washington dan Beijing saling menerapkan tarif tambahan, memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global. Akibatnya, proyeksi permintaan minyak dunia ikut direvisi menurun oleh berbagai lembaga. Badan Energi Internasional (IEA) dan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah mengindikasikan perlambatan. Pelemahan manufaktur di Tiongkok dan Eropa, yang merupakan konsumen minyak besar, semakin memperparah sentimen pasar. Investor khawatir perlambatan ekonomi global akan secara signifikan mengurangi kebutuhan akan bahan bakar, sehingga menekan harga WTI.
Selain itu, data ekonomi makro yang beragam dari berbagai negara besar turut menambah kekhawatiran. Indikator pembelian manajer (PMI) global menunjukkan tren menurun. Hal ini mengindikasikan prospek produksi industri yang suram. Para pelaku pasar secara cermat memantau setiap perkembangan dalam negosiasi dagang. Namun, sampai ada resolusi nyata, tekanan jual terhadap minyak cenderung tetap ada.
Ketegangan AS-Iran: Penopang Harga di Tengah Gejolak
Di sisi lain, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran secara signifikan menawarkan dukungan terhadap harga minyak WTI. Eskalasi situasi di Teluk Persia, khususnya di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan. Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak global. Setiap ancaman terhadap aliran minyak melalui selat ini berpotensi memicu lonjakan harga yang tajam.
Washington terus menerapkan sanksi ketat terhadap ekspor minyak Iran. Langkah ini telah mengurangi pasokan minyak mentah dari Teheran di pasar global. Eskalasi retorika dan penempatan aset militer oleh AS di wilayah tersebut semakin memperkeruh keadaan. Risiko geopolitik semacam ini secara inheren memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak. Premi ini bertindak sebagai penopang, mencegah WTI jatuh terlalu jauh di bawah level-level kunci. Meskipun ada kekhawatiran permintaan, ancaman terhadap pasokan global ini tetap menjadi faktor penting yang dipertimbangkan oleh para trader.
WTI Terus Bertahan di Atas Mid-$65.00: Analisis Level Kunci
Minyak mentah WTI saat ini terus bertahan di atas level mid-$65.00, mengindikasikan adanya pertarungan kuat antara sentimen bearish dan bullish. Level $65.00 hingga $65.50 per barel berfungsi sebagai area dukungan psikologis dan teknikal. Penurunan di bawah level ini mungkin membuka jalan menuju $64.00 atau bahkan $63.00. Sebaliknya, penembusan resistensi terdekat di $66.50 dapat memicu pergerakan menuju $67.00. Pergerakan harga WTI mencerminkan ketidakpastian pasar yang mendalam. Para investor menimbang antara dampak perang dagang pada konsumsi energi global dan potensi gangguan pasokan dari konflik geopolitik. Oleh karena itu, pergerakan di level ini akan menjadi krusial untuk menentukan arah jangka pendek komoditas ini.
Kesimpulan
Pergerakan harga minyak WTI saat ini mencerminkan tarik-menarik antara kekhawatiran perang dagang yang menekan permintaan global dan ketegangan AS-Iran yang memberikan dukungan pasokan. Volatilitas akan terus berlanjut seiring investor memantau perkembangan geopolitik dan ekonomi. Level harga kunci di sekitar mid-$65.00 menjadi penentu arah WTI selanjutnya.
Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com