Japanese Yen gains ground on Trump’s Hormuz pause, intervention caution

Dipublikasikan pada: 06 May 2026

Japanese Yen gains ground on Trump’s Hormuz pause, intervention caution
Yen Jepang Menguat Akibat Jeda Hormuz Trump dan Kehati-hatian Intervensi

Yen Jepang Menguat Akibat Jeda Hormuz Trump dan Kehati-hatian Intervensi

Kurs Yen Jepang menunjukkan penguatan signifikan di pasar mata uang global. Penguatan ini terjadi berkat kombinasi dua faktor utama. Pertama, keputusan Presiden AS Donald Trump menunda serangan militer di Selat Hormuz. Kedua, pasar mencermati kehati-hatian pemerintah Jepang terkait potensi intervensi mata uang. Investor menafsirkan perkembangan ini sebagai sinyal ketidakpastian yang berkelanjutan. Hal ini secara alami mendorong permintaan aset safe-haven, termasuk Yen.

Jeda Hormuz Trump dan Dampak pada Aset Safe-Haven

Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya beberapa waktu terakhir. Ancaman konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam. Presiden Trump kemudian memutuskan menunda serangan balasan terhadap Iran. Keputusan ini memang menghindari eskalasi militer langsung. Namun, pasar tidak sepenuhnya menghilangkan risiko geopolitik. Sebaliknya, jeda ini justru menciptakan lapisan ketidakpastian baru. Investor mempertimbangkan langkah AS selanjutnya dan dinamika regional yang kompleks. Situasi geopolitik yang belum terselesaikan membuat banyak investor mencari perlindungan bagi modal mereka. Oleh karena itu, aset seperti obligasi pemerintah AS dan Yen Jepang menjadi pilihan utama. Yen, sebagai mata uang safe-haven tradisional, mendapat manfaat langsung dari kondisi ini. Setiap tanda ketidakpastian global cenderung meningkatkan permintaannya di mata pelaku pasar.

Kehati-hatian Intervensi Memperkuat Daya Tarik Yen

Penguatan Yen biasanya memicu spekulasi intervensi. Bank of Japan (BoJ) atau Kementerian Keuangan (MoF) Jepang berpotensi melemahkan Yen. Namun, situasi saat ini berbeda dari biasanya. Pasar menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar terhadap kemungkinan intervensi. Grup G7 dan G20 telah lama menyepakati larangan devaluasi mata uang kompetitif. Prinsip ini membatasi ruang gerak Jepang untuk intervensi agresif. Para pejabat Jepang sendiri cenderung menekankan pentingnya stabilitas pasar. Mereka juga jarang mengisyaratkan kesiapan untuk intervensi skala besar. Selain itu, tingkat inflasi di Jepang masih tetap rendah. Penguatan Yen bahkan dapat membantu menekan harga impor lebih lanjut. Ini bisa menjadi faktor positif dalam beberapa aspek ekonomi domestik. Investor karenanya merasa lebih aman memegang Yen. Risiko intervensi yang dapat menghapus keuntungan mereka terasa berkurang.

Faktor Ekonomi Makro Mendukung Penguatan Yen

Penguatan Yen juga didukung oleh fundamental ekonomi makro yang lebih luas. Kekhawatiran perlambatan ekonomi global terus meningkat. Perang dagang antara AS dan Tiongkok masih menjadi pemicu utama. Bank sentral global, termasuk Federal Reserve, mulai mengambil sikap lebih dovish. Hal ini menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga di banyak negara. Jepang sendiri mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar. Suku bunga rendah di Jepang membuatnya menjadi mata uang pendanaan yang menarik untuk carry trade. Namun, saat risiko pasar meningkat, investor cenderung melepas posisi berisiko. Mereka kemudian menutup posisi pendanaan Yen mereka. Proses ini secara langsung meningkatkan permintaan Yen di pasar global. Oleh karena itu, Yen terus menjadi benteng pertahanan bagi investor di tengah gejolak pasar yang tak menentu.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Dolar Kanada Menguat: Mengapa USD Tertekan di Pasar Global? Artikel Lama → China hosts Iran's top diplomat just days ahead of Trump's high-stakes visit

Postingan Lainya