Pelemahan Euro: Kenapa EUR/GBP Anjlok ke Titik Terendah 16 Bulan?

Dipublikasikan pada: 07 October 2026

Pelemahan Euro: Kenapa EUR/GBP Anjlok ke Titik Terendah 16 Bulan?

Euro memperpanjang tren kerugian terhadap Poundsterling Inggris, mencapai level terendah dalam 16 bulan terakhir, menyusul serangkaian data ekonomi yang melemah dari Zona Euro dan ekspektasi pasar yang berbeda terkait kebijakan bank sentral. Pasangan mata uang EUR/GBP menunjukkan tekanan jual yang signifikan, mencerminkan perbedaan prospek ekonomi dan moneter antara kedua wilayah tersebut. Penurunan ini menandakan pergeseran sentimen investor yang jelas, dengan Poundsterling menunjukkan ketahanan relatif.

Divergensi Kebijakan Moneter Menekan Euro

Pelemahan Euro sebagian besar berasal dari divergensi yang semakin lebar dalam pandangan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE). Para analis pasar saat ini memperkirakan ECB akan memulai siklus pemotongan suku bunga lebih awal dan mungkin lebih agresif dibandingkan BoE. Data inflasi Zona Euro yang melandai dan pertumbuhan ekonomi yang lesu terus menekan ECB untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Sementara itu, inflasi di Inggris tetap tinggi dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda ketahanan yang tidak terduga, meski masih rapuh. Hal ini memberikan BoE lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Perbedaan suku bunga ini secara alami membuat Poundsterling lebih menarik bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi, sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang Inggris tersebut.

Faktor-faktor yang Memperpanjang Penurunan Euro Melawan Pound

Beberapa faktor lain turut memperpanjang penurunan Euro terhadap Poundsterling. Laporan PMI (Purchasing Managers' Index) terbaru dari Zona Euro secara konsisten menunjukkan kontraksi di sektor manufaktur dan perlambatan pertumbuhan di sektor jasa. Angka-angka ini mengindikasikan prospek ekonomi yang suram, yang kemudian melemahkan kepercayaan investor terhadap Euro. Sebagai hasilnya, tekanan jual terus meningkat.

Di sisi lain, data ekonomi Inggris, meski tidak selalu kuat, seringkali melampaui ekspektasi pasar yang rendah. Hal ini membantu menopang Poundsterling. Selain itu, sentimen risiko global juga berperan. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung mencari aset yang relatif aman. Poundsterling, dengan kebijakan moneter yang lebih ketat dan prospek ekonomi yang sedikit lebih cerah, dianggap sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan Euro.

Prospek Jangka Pendek dan Tekanan Berkelanjutan

Dalam jangka pendek, tekanan terhadap Euro kemungkinan akan berlanjut jika perbedaan prospek ekonomi dan kebijakan moneter tetap ada. Pasar akan memantau dengan cermat data inflasi dan pertumbuhan dari kedua wilayah. Pidato dari pejabat ECB dan BoE juga akan menjadi kunci untuk mengukur arah kebijakan di masa mendatang. Apabila ECB memberikan sinyal pemotongan suku bunga yang lebih jelas, maka Euro mungkin akan mengalami tekanan lebih lanjut.

Secara teknikal, pasangan EUR/GBP telah menembus beberapa level support penting. Penembusan ini mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut. Para trader dan investor kini mengamati apakah Euro dapat menemukan pijakan. Namun, tanpa pendorong fundamental yang kuat, pemulihan signifikan mungkin sulit terjadi dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Pelemahan Euro terhadap Poundsterling kemungkinan besar akan terus berlanjut di tengah perbedaan prospek ekonomi dan kebijakan moneter antara Zona Euro dan Inggris. Investor dan trader harus mencermati data inflasi, pertumbuhan, serta pernyataan bank sentral ke depan. Tanpa pendorong fundamental yang kuat, pemulihan signifikan bagi Euro akan sulit terjadi dalam waktu dekat.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Keandalan Data NFP: Analisis Standard Chartered & Dampaknya pada USD Artikel Lama → Pelemahan Rupee India: Analisis Kegagalan Kebijakan RBI

Postingan Lainya