Pemulihan JPY: DBS Soroti Valuasi Ekstrem, Siap Menguat?
Dipublikasikan pada: 19 February 2026
Prospek Yen Jepang (JPY) kembali menjadi sorotan pasar keuangan global. Menurut laporan terbaru dari DBS Bank, dengan judul "JPY: Deep undervaluation offers recovery scope – DBS", mata uang Jepang tersebut saat ini berada pada level yang sangat undervalued, menciptakan potensi signifikan untuk pemulihan. Analisis DBS menunjukkan bahwa meskipun JPY telah melemah secara drastis dalam beberapa waktu terakhir, terutama terhadap Dolar AS, fundamental jangka panjang dan potensi perubahan kebijakan moneter menawarkan ruang untuk apresiasi di masa mendatang.
DBS Menyoroti Undervaluation JPY yang Ekstrem
DBS Bank menggarisbawahi bahwa Yen Jepang kini termasuk salah satu mata uang dengan valuasi terendah di antara negara-negara G10. Disparitas suku bunga yang lebar antara Bank of Japan (BOJ) dengan bank sentral utama lainnya, seperti Federal Reserve AS dan European Central Bank (ECB), menjadi pendorong utama pelemahan ini. Kebijakan moneter ultra-longgar BOJ, termasuk kontrol kurva imbal hasil (YCC) dan suku bunga negatif, telah membuat JPY menjadi mata uang carry trade favorit. Investor cenderung meminjam JPY dengan bunga rendah dan menginvestasikannya dalam aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain, meningkatkan tekanan jual pada Yen.
Namun, valuasi ekstrim ini, menurut DBS, tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Model penilaian berbasis paritas daya beli (PPP) dan neraca pembayaran menunjukkan bahwa JPY jauh di bawah nilai wajarnya. Ini mengindikasikan bahwa pergeseran sentimen atau kebijakan dapat memicu pembalikan arah yang kuat. Pasar mulai mencari nilai di antara aset yang undervalued, dan JPY berpotensi menjadi salah satu kandidat utama untuk pemulihan substansial.
Peluang Pemulihan JPY: Potensi Pergeseran Kebijakan dan Faktor Global
Potensi pemulihan JPY sebagian besar bergantung pada beberapa faktor kunci. Pertama, spekulasi mengenai normalisasi kebijakan moneter oleh Bank of Japan terus berkembang. Meskipun BOJ masih mempertahankan sikap dovish, tekanan inflasi yang persisten di Jepang dan prospek pertumbuhan upah yang lebih kuat dapat mendorong bank sentral untuk meninjau kembali kebijakan YCC atau bahkan menghapus suku bunga negatif dalam waktu dekat. Pergeseran sekecil apa pun dalam retorika atau kebijakan BOJ dapat memicu reaksi kuat di pasar mata uang, menyebabkan JPY menguat secara signifikan.
Kedua, perubahan dalam dinamika ekonomi global juga akan memainkan peran penting. Jika Federal Reserve AS mulai memangkas suku bunga, perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang akan menyempit. Hal ini akan mengurangi daya tarik carry trade Dolar/Yen dan berpotensi memicu aksi beli JPY. Selain itu, JPY secara tradisional berfungsi sebagai aset safe haven. Jika terjadi gejolak pasar global atau peningkatan ketidakpastian geopolitik, permintaan akan JPY sebagai tempat berlindung yang aman dapat meningkat, memberikan dorongan apresiasi.
DBS menegaskan bahwa meskipun momentum jangka pendek masih menantang, dasar-dasar valuasi yang ekstrem menawarkan landasan kuat untuk pemulihan jangka menengah hingga panjang. Investor disarankan untuk memantau dengan cermat sinyal dari BOJ dan perkembangan ekonomi global yang lebih luas.
Kesimpulan
Meskipun tantangan jangka pendek masih ada, laporan DBS Bank menyoroti potensi pemulihan JPY yang kuat berkat valuasi ekstrem di bawah nilai wajarnya. Investor disarankan memantau ketat sinyal dari Bank of Japan serta dinamika ekonomi global untuk peluang apresiasi Yen Jepang dalam jangka menengah hingga panjang.
Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com