Pound Sterling Melemah: UOB Proyeksikan Tekanan Terhadap Dolar AS

Dipublikasikan pada: 17 September 2026

Pound Sterling Melemah: UOB Proyeksikan Tekanan Terhadap Dolar AS
British Pound: Sterling yang Oversold Tetap Terlihat Lebih Lemah Terhadap Dolar AS – UOB

British Pound: Sterling yang Oversold Tetap Terlihat Lebih Lemah Terhadap Dolar AS – UOB

Pasangan mata uang GBP/USD terus menjadi sorotan para pelaku pasar di tengah volatilitas global. Analis dari United Overseas Bank (UOB) baru-baru ini menyatakan bahwa meskipun Pound Sterling berada dalam kondisi oversold, mata uang ini masih diproyeksikan melemah lebih lanjut terhadap Dolar AS. Pernyataan UOB ini menegaskan bahwa faktor fundamental dan sentimen pasar yang mendasari kemungkinan besar akan mengesampingkan indikator teknikal yang menunjukkan kondisi jual berlebihan. Kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Inggris serta kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang relatif kurang agresif dibandingkan Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor pendorong utama di balik proyeksi ini.

Analisis UOB: Sterling yang Terjual Berlebihan Masih Menghadapi Tekanan

UOB menyoroti paradoks menarik dalam pergerakan Pound Sterling. Secara teknikal, GBP telah menunjukkan tanda-tanda oversold, sebuah kondisi yang biasanya mengindikasikan potensi pembalikan harga ke atas. Namun demikian, bank tersebut berpendapat bahwa kondisi fundamental masih mendukung pelemahan lebih lanjut. Hal ini mencerminkan prevalensi faktor makroekonomi atas sinyal teknikal jangka pendek. Para analis UOB menggarisbawahi beberapa alasan kuat, termasuk perbedaan suku bunga yang terus melebar antara Inggris dan Amerika Serikat, serta ketahanan ekonomi AS yang relatif lebih kuat.

Selain itu, data inflasi Inggris yang masih tinggi belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran resesi yang membayangi. Para investor cenderung mencari aset yang lebih aman dalam kondisi ekonomi tidak menentu, dan Dolar AS secara tradisional memenuhi kriteria tersebut. Oleh karena itu, permintaan terhadap Dolar AS tetap tinggi, sementara prospek ekonomi Inggris masih diselimuti ketidakpastian. UOB menegaskan bahwa sentimen negatif terhadap Pound kemungkinan akan bertahan dalam jangka waktu menengah.

Dinamika Ekonomi dan Kebijakan Moneter Pendorong Pelemahan GBP

Pelemahan Pound Sterling tidak terlepas dari dinamika ekonomi global dan perbedaan kebijakan moneter yang signifikan. The Fed telah mengambil sikap hawkish yang tegas, secara konsisten menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi yang persisten. Kebijakan ini secara signifikan meningkatkan daya tarik Dolar AS sebagai investasi berimbal hasil yang lebih tinggi. Di sisi lain, Bank of England, meskipun juga menaikkan suku bunga, menghadapi dilema yang jauh lebih kompleks. Pertumbuhan ekonomi Inggris terbukti lebih rapuh dibandingkan AS, dengan tingkat inflasi yang membebani daya beli masyarakat.

Para pembuat kebijakan BoE harus menyeimbangkan upaya penekanan inflasi dengan risiko memicu resesi yang lebih dalam. Hal ini membatasi ruang gerak mereka untuk melakukan pengetatan moneter agresif dibandingkan The Fed. Akibatnya, selisih imbal hasil obligasi antara kedua negara cenderung menguntungkan AS. Ini mendorong aliran modal keluar dari Inggris, sehingga secara langsung menekan Pound Sterling. Ketidakpastian terkait dampak Brexit jangka panjang juga terus membebani sentimen investor terhadap aset-aset Inggris.

Sentimen Pasar dan Prospek Jangka Pendek GBP/USD

Sentimen pasar saat ini secara jelas mendukung Dolar AS. Kekhawatiran resesi global, konflik geopolitik yang berlanjut, dan volatilitas pasar energi terus mendorong investor menuju mata uang safe-haven. Dolar AS secara luas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman di masa ketidakpastian ekonomi. Meskipun Pound Sterling menunjukkan tanda-tanda oversold secara teknikal, sentimen risiko global yang negatif terus menekan permintaan terhadap Sterling, membatasi potensi pemulihannya.

UOB memprediksi bahwa tren pelemahan GBP/USD ini dapat berlanjut dalam waktu dekat. Fokus pasar akan tetap tertuju pada rilis data ekonomi kunci dari kedua negara, khususnya angka inflasi, pertumbuhan PDB, dan laporan pekerjaan. Perkembangan dalam kebijakan moneter dari BoE dan The Fed juga akan menjadi penentu utama arah pergerakan pasangan mata uang ini. Hingga ada perubahan signifikan dalam prospek ekonomi Inggris atau pergeseran kebijakan moneter yang drastis, Pound Sterling kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan terhadap Dolar AS.

Kesimpulan

Meskipun Pound Sterling secara teknikal oversold, UOB memproyeksikan pelemahan berkelanjutan terhadap Dolar AS. Hal ini didorong oleh prospek ekonomi Inggris yang rapuh, perbedaan kebijakan moneter antara BoE dan The Fed, serta tingginya permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven. Tren ini diperkirakan akan bertahan dalam jangka waktu menengah, dengan fokus pasar pada data ekonomi dan keputusan kebijakan moneter.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Dolar Kuat CEE: Analisis ING tentang Tekanan Jangka Panjang Artikel Lama → Kepemilikan Chelsea: Saham Boehly & Walter Dijual ke Clearlake

Postingan Lainya