Silver climbs toward $70 as US Dollar remains under pressure
Dipublikasikan pada: 21 August 2026
Harga Perak Melonjak Menuju $70 di Tengah Tekanan Berkelanjutan pada Dolar AS
Harga perak terus menunjukkan momentum bullish yang signifikan, kini bergerak mendekati level psikologis penting $70 per ounce. Kenaikan substansial ini terjadi di tengah sentimen pasar yang mendukung logam mulia, diperkuat oleh tekanan berkelanjutan pada nilai tukar Dolar AS. Fenomena ini mencerminkan pergeseran investasi global, di mana perak menarik perhatian sebagai aset safe-haven dan lindung nilai inflasi.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Perak
Kenaikan harga perak didorong oleh beberapa faktor fundamental dan teknis. Pertama, permintaan industri terhadap perak terus meningkat. Logam ini merupakan komponen vital dalam produksi panel surya, kendaraan listrik, dan elektronik lainnya. Transisi energi hijau global secara otomatis meningkatkan kebutuhan akan perak, menciptakan dasar permintaan yang kuat.
Kedua, perak sering dianggap sebagai "emas untuk masyarakat miskin" dan lindung nilai yang efektif terhadap inflasi. Kekhawatiran inflasi tetap tinggi di banyak ekonomi utama. Investor mencari aset yang dapat mempertahankan daya beli mereka. Perak menawarkan alternatif menarik di samping emas.
Ketiga, posisi spekulatif di pasar berjangka menunjukkan minat beli yang kuat. Data CFTC seringkali memperlihatkan posisi net-long yang signifikan dari manajer uang. Ini mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap kenaikan harga lebih lanjut. Level resistance teknis juga berhasil ditembus, memicu order beli tambahan dan mempercepat momentum.
Dampak Tekanan Dolar AS terhadap Harga Perak
Salah satu pendorong utama kenaikan harga perak adalah pelemahan Dolar AS. Harga komoditas seperti perak, yang diperdagangkan dalam Dolar AS, menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lain ketika Dolar melemah. Akibatnya, permintaan global dapat meningkat. Indeks Dolar AS (DXY) telah berada di bawah tekanan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Pelemahan Dolar AS ini terkait erat dengan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar mengantisipasi potensi penurunan suku bunga The Fed di masa mendatang. Suku bunga yang lebih rendah cenderung mengurangi daya tarik Dolar AS bagi investor yang mencari imbal hasil. Dana kemudian beralih ke aset non-yielding seperti logam mulia.
Selain itu, data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda pendinginan atau inflasi yang terkendali juga memicu spekulasi penurunan suku bunga. Hal ini semakin menekan Dolar. Investor secara aktif merespons sinyal-sinyal makroekonomi ini dengan menggeser portofolio mereka.
Outlook Pasar: Apa yang Mendorong Dolar AS Tetap Tertekan?
Prospek Dolar AS kemungkinan akan tetap di bawah tekanan dalam jangka menengah. Kebijakan moneter The Fed akan menjadi penentu utama. Jika The Fed memang mulai memangkas suku bunga, Dolar AS diperkirakan akan terus melemah. Hal ini secara langsung menguntungkan perak dan komoditas lainnya.
Risiko geopolitik global juga berperan. Ketidakpastian politik dan ekonomi di berbagai belahan dunia meningkatkan daya tarik aset safe-haven. Meskipun Dolar AS kadang-kadang bertindak sebagai safe-haven, dalam kondisi tertentu, fokus beralih ke logam mulia.
Investor akan terus memantau rilis data inflasi, laporan pasar tenaga kerja, dan pernyataan dari pejabat The Fed. Setiap indikasi perlambatan ekonomi atau prospek penurunan suku bunga akan semakin memperkuat argumen untuk Dolar AS yang lebih lemah. Ini pada gilirannya akan memberikan dorongan lanjutan bagi harga perak menuju target berikutnya.
Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com