Tren Maxxing: Antara Peningkatan Diri dan Risiko Kesehatan Mental

Dipublikasikan pada: 12 July 2026

Tren Maxxing: Antara Peningkatan Diri dan Risiko Kesehatan Mental

Fenomena "maxxing", sebuah istilah slang internet yang merujuk pada upaya ekstrem untuk memaksimalkan aspek tertentu dari diri seseorang, kini menjadi perbincangan hangat. Dua varian yang paling menonjol, "booksmaxxing" dan "looksmaxxing", telah menyebar luas di platform media sosial. Namun, di balik popularitasnya, tren viral ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan sejumlah pakar kesehatan mental, yang melihat potensi dampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis individu.

Evolusi Tren "Maxxing" di Ruang Digital

Istilah "maxxing" awalnya muncul dari komunitas daring yang berfokus pada pengembangan diri, terutama dalam konteks penampilan fisik. Kemudian, ia berkembang mencakup berbagai aspek kehidupan. "Booksmaxxing" merujuk pada komitmen intensif terhadap pembelajaran dan peningkatan intelektual melalui membaca buku secara ekstensif serta konsumsi informasi. Pengikut tren ini sering membagikan daftar bacaan, ringkasan buku, atau tips belajar efektif. Sementara itu, "looksmaxxing" berpusat pada optimalisasi penampilan fisik secara drastis, seringkali melibatkan rutinitas perawatan kulit yang rumit, diet ketat, olahraga ekstrem, atau bahkan prosedur kosmetik invasif. Kedua tren ini, meskipun memiliki niat dasar untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, berkembang pesat berkat algoritma media sosial yang mendorong konten serupa kepada audiens yang rentan.

Dari Peningkatan Diri Menjadi Obsesi: Mengapa Tren Viral Ini Meresahkan Para Ahli Kesehatan Mental

Meskipun "booksmaxxing" terdengar positif, tekanan untuk terus-menerus mengonsumsi informasi dan "menjadi pintar" dapat menyebabkan kelelahan mental. Psikolog mencatat bahwa budaya ini terkadang mendorong performativitas intelektual alih-alih pembelajaran yang otentik. Individu mungkin merasa wajib membaca buku-buku tertentu hanya demi citra, bukan karena minat intrinsik, yang pada akhirnya memicu kecemasan. Selain itu, arus informasi yang tak henti-hentinya juga berpotensi menyebabkan informasi berlebihan, sehingga sulit memproses dan menginternalisasi pengetahuan secara efektif.

Di sisi lain, kekhawatiran seputar "looksmaxxing" jauh lebih mendalam. Tren ini seringkali mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis dan seringkali dicapai melalui manipulasi gambar atau filter. Akibatnya, banyak orang, terutama remaja dan dewasa muda, mengembangkan citra tubuh negatif dan dismorfia tubuh. Mereka terdorong untuk mengejar "kesempurnaan" yang mustahil, berpotensi menghabiskan banyak uang untuk produk atau prosedur yang tidak perlu, bahkan berbahaya. Ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa fokus berlebihan pada penampilan luar dapat mengikis harga diri internal dan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, serta gangguan makan. Perbandingan sosial yang intens di media sosial memperburuk masalah ini, menciptakan lingkaran setan ketidakpuasan diri.

Dampak "Booksmaxxing" dan "Looksmaxxing" pada Identitas Diri dan Kesehatan Mental

Media sosial berperan sebagai katalisator utama dalam penyebaran tren "maxxing". Platform ini memungkinkan individu untuk memamerkan "kemajuan" mereka, baik itu tumpukan buku yang telah dibaca maupun transformasi fisik yang dramatis. Lingkungan yang sangat visual dan berbasis validasi eksternal ini secara signifikan membentuk cara pandang seseorang terhadap identitas diri. Ketika validasi eksternal menjadi pendorong utama, individu mungkin kehilangan koneksi dengan nilai-nilai dan tujuan internal mereka. Mereka mulai mendefinisikan diri mereka berdasarkan seberapa baik mereka "memaksimalkan" diri mereka di mata orang lain. Oleh karena itu, para ahli khawatir bahwa tren ini dapat mengikis fondasi kesehatan mental, menggantikan pengembangan diri yang seimbang dengan obsesi terhadap citra dan angka metrik yang terus-menerus.

Kesimpulan

Tren "maxxing" seperti booksmaxxing dan looksmaxxing, yang populer di media sosial, mulanya bertujuan meningkatkan diri. Namun, para ahli kesehatan mental memperingatkan potensi risiko serius, seperti kelelahan mental, citra tubuh negatif, hingga gangguan kesehatan jiwa akibat obsesi dan validasi eksternal. Oleh karena itu, penting untuk mencari keseimbangan dalam pengembangan diri agar tidak mengikis fondasi kesehatan mental yang seimbang.

Sumber Inspirasi: www.cnbc.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Pelonggaran Kontrol Ekspor AS-UEA: Perdebatan Etika & Keamanan Artikel Lama → Dinamika Pasar Global: AI Melonjak, Minyak Memicu Inflasi

Postingan Lainya