USD/JPY advances as surging Oil prices, tensions weigh on Japanese Yen

Dipublikasikan pada: 10 March 2026

USD/JPY advances as surging Oil prices, tensions weigh on Japanese Yen

Pasangan mata uang USD/JPY kembali menunjukkan penguatan signifikan, melanjutkan tren kenaikan di tengah tekanan pasar global. Pergerakan ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental yang membebani mata uang Jepang. USD/JPY advances as surging Oil prices, tensions weigh on Japanese Yen, mencerminkan kerentanan Yen terhadap dinamika harga komoditas dan ketidakpastian geopolitik global yang semakin intensif.

Dampak Harga Minyak Melonjak Terhadap Yen Jepang

Jepang, sebagai salah satu importir energi terbesar di dunia, sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak global secara langsung meningkatkan biaya impor bagi negara ini. Akibatnya, defisit neraca perdagangan Jepang cenderung melebar, memberikan tekanan negatif pada Yen. Para analis pasar mengamati bagaimana lonjakan harga minyak memengaruhi rekening giro Jepang, yang merupakan indikator kesehatan ekonomi eksternal. Ketika harga minyak terus menanjak, seperti yang terlihat belakangan ini, kemampuan Jepang untuk mempertahankan surplus perdagangan menjadi semakin sulit. Situasi ini secara fundamental melemahkan permintaan terhadap Yen di pasar valuta asing, karena lebih banyak Yen harus dikonversi untuk membeli mata uang asing guna membiayai impor minyak yang lebih mahal. Selain itu, inflasi impor yang disebabkan oleh harga energi tinggi juga dapat membatasi ruang gerak kebijakan moneter Bank of Japan.

Geopolitik dan Sentimen Risiko Menekan JPY

Ketegangan geopolitik global seringkali memicu permintaan aset safe-haven. Namun demikian, dalam konteks saat ini, Yen Jepang gagal berfungsi sebagai pelindung risiko yang efektif. Sebaliknya, ketidakpastian yang meningkat, terutama dari konflik di Timur Tengah dan perang berkelanjutan di Eropa Timur, justru mendorong investor beralih ke Dolar AS. Dolar AS dianggap sebagai safe-haven utama dalam kondisi ekstrem, didukung oleh likuiditasnya yang mendalam dan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia. Sementara itu, Yen Jepang, dengan suku bunga rendahnya, menjadi target carry trade. Investor cenderung menjual Yen untuk membeli aset berdenominasi mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi. Oleh karena itu, ketika risiko global meningkat, likuidasi posisi carry trade dan perpindahan modal ke aset yang menghasilkan imbal hasil lebih tinggi serta dianggap lebih aman menekan Yen. Sentimen risiko yang memburuk memperparah arus keluar modal dari Yen, yang pada gilirannya memperkuat posisi USD/JPY.

USD/JPY Menguat: Divergensi Kebijakan Moneter dan Prospek

Penguatan USD/JPY tidak hanya didukung oleh faktor eksternal seperti harga minyak dan geopolitik, tetapi juga oleh perbedaan kebijakan moneter antara Federal Reserve AS dan Bank of Japan. Federal Reserve telah mempertahankan sikap kebijakan yang lebih ketat, bahkan jika ada sinyal pelonggaran di masa depan, suku bunga AS masih jauh lebih tinggi daripada Jepang. Bank of Japan, di sisi lain, terus mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga acuan di wilayah negatif dan program pembelian aset yang agresif. Divergensi ini menciptakan perbedaan imbal hasil yang signifikan antara obligasi AS dan Jepang, menarik modal ke aset berdenominasi Dolar. Investor mencari keuntungan yang lebih tinggi, sehingga mereka memindahkan investasi dari Yen ke Dolar. Prospek jangka pendek menunjukkan bahwa tekanan terhadap Yen kemungkinan akan berlanjut selama perbedaan suku bunga tetap lebar dan ketidakpastian global masih tinggi. Oleh karena itu, pasangan USD/JPY diperkirakan akan tetap berada di bawah pengaruh dinamika pasar ini.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Harga Minyak Mentah Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah Artikel Lama → Analisis AUD/USD: Inflasi Tiongkok Mendorong, Dolar AS Menahan Kenaikan

Postingan Lainya