Pound Sterling gathers strength above 1.3500 amid tariff confusion

Dipublikasikan pada: 23 February 2026

Pound Sterling gathers strength above 1.3500 amid tariff confusion

Pound Sterling menunjukkan ketahanan yang kuat, menguat di atas level krusial 1.3500 terhadap Dolar AS, bahkan di tengah gejolak dan kebingungan seputar isu-isu tarif. Kinerja mata uang Inggris ini mengejutkan beberapa analis pasar, mengingat ketidakpastian yang berkelanjutan terkait hubungan dagang pasca-Brexit dan potensi hambatan tarif baru. Namun demikian, pasar tampaknya lebih memprioritaskan faktor-faktor fundamental lainnya yang mendukung kekuatan GBP.

Faktor Pendorong Penguatan Pound Sterling

Penguatan Sterling sebagian besar didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank of England (BoE) yang cenderung hawkish. Data inflasi Inggris Raya yang persisten di atas target, ditambah dengan pasar tenaga kerja yang ketat, telah mendorong para investor untuk memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut dari BoE. Prospek pengetatan kebijakan moneter ini secara signifikan meningkatkan daya tarik Pound Sterling sebagai aset investasi, terutama dibandingkan dengan beberapa bank sentral lain yang mungkin bersikap lebih dovish.

Selain itu, pemulihan ekonomi Inggris pasca-pandemi, meskipun menghadapi beberapa tantangan, menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Konsumsi domestik yang solid dan investasi bisnis yang perlahan pulih memberikan fondasi yang cukup kuat. Para pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi yang akan datang, dengan harapan bahwa angka-angka tersebut akan mengkonfirmasi lintasan pertumbuhan positif dan memvalidasi sikap BoE yang lebih ketat.

Dinamika Penguatan GBP/USD di Atas 1.3500 di Tengah Isu Tarif

Ketahanan Pound Sterling melampaui level 1.3500 menjadi sorotan utama, terutama karena terjadi di tengah kebingungan tarif yang berkelanjutan. Isu-isu seputar Protokol Irlandia Utara, negosiasi perdagangan dengan Uni Eropa, dan potensi friksi dagang lainnya terus membayangi lanskap ekonomi Inggris. Namun demikian, pasar tampaknya mulai menganggap isu-isu ini sebagai "noise" politik atau sudah memperhitungkan dampaknya. Investor mungkin menilai bahwa risiko tarif tersebut tidak cukup signifikan untuk menggagalkan prospek moneter yang lebih ketat atau pemulihan ekonomi secara keseluruhan.

Level 1.3500 sendiri memiliki makna psikologis dan teknis yang penting. Penembusan dan penahanan di atas level ini sering kali memicu sentimen bullish lebih lanjut di kalangan trader. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kekhawatiran eksternal, dukungan fundamental dan sentimen pasar positif terhadap Sterling cukup kuat untuk mengatasi tekanan negatif. Di sisi lain, beberapa analis berpendapat bahwa kebingungan tarif bisa menjadi peluang bagi investor untuk membeli Sterling pada saat harga belum sepenuhnya mencerminkan potensi penguatannya.

Sentimen Pasar dan Prospek ke Depan

Sentimen investor terhadap Pound Sterling saat ini relatif positif, didorong oleh perbedaan suku bunga yang menguntungkan dan harapan akan stabilitas ekonomi. Pergerakan modal telah menunjukkan peningkatan minat pada aset-aset Inggris. Namun, volatilitas tetap menjadi teman setia di pasar valuta asing. Kebingungan tarif, meskipun saat ini dikesampingkan, tetap menjadi risiko yang dapat muncul kembali dan berpotensi mempengaruhi Sterling di masa depan.

Oleh karena itu, para investor akan terus memantau dengan seksama perkembangan politik terkait perdagangan, rilis data ekonomi Inggris, dan pernyataan dari pejabat BoE. Setiap perubahan dalam retorika kebijakan atau eskalasi ketegangan perdagangan dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar dan menguji ketahanan Pound Sterling di level-level yang lebih tinggi. Pasar juga akan mempertimbangkan dinamika Dolar AS, yang juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan Federal Reserve dan kondisi ekonomi global.

Sumber Inspirasi: www.fxstreet.com

Baca Juga

← Artikel Terbaru Silver Price Forecast: XAG/USD rises to near $87.50 on tariff, US-Iran concerns Artikel Lama → NZD/USD remains stronger near 0.6000 as New Zealand’s Q4 Retail Sales rises

Postingan Lainya